Langsung ke konten utama

Internet

 

1.      Internet

 Karya: Badaruddin


Internet

Dulu dimasa berlalu

Engkau begitu pemalu

Bahkan sangat sedikit yang bisa mengenalmu

Apalagi bersahabat denganmu

Engkau hanya milik kaum elit

Mereka bangga dengan kemurahanmu memenuhi kebutuhannya

 

Namun seiring berjalannya waktu

Engkau perlahan membuka diri

Menebar senyum mempesona kepada siapa saja

Kami jatuh cinta

Kamipun berbahagia dengan sikap manja yang engkau tawarkan

Kita bercumbu bahkan sampai lupa waktu

 

Kemesraan itu semakin lama semakin buatku lupa diri

Hal serupa sangat logis dibahasakan oleh kami semua

Tetapi keadilan takaran kasih yang engkau berikan juga telah berbuah petaka

Itu karena diantara kami banyak tidak memahami arti dirimu seutuhnya

 

Sebagian kami mengiringmu ke istana ilmu

Tapi sebagian yang lain mengajakmu berjuta hura sepanjang waktu

Kesenjangan pun terjadi dan acap kali ciptakan kegaduhan

Dan kami masih belum saling memahami

 

Maros, 24 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulislah!

  Menulislah! Karya: Badaruddin   Waktu terus melaju Kisah dihari ini menjadi sejarah dimasa yang akan datang Tak akan bertahan tutur dalam kemurnian jejak Maka goreskanlah kisah itu diatas kertas putih Abadikan dalam memori digital   Menulislah Abaikanlah kaidah penulisan yang baku Lepaskan tali pengikat permainan diksi Karena menulis adalah tentang jejak yang berulang Akhirnyapun akan kau temukan kesempurnaan tulisan itu   Menulis akan mengabadikanmu Menempatkanmu di hati sejarah Engkau mendikte generasi dengan pengalamanmu Namamu menjadi kenangan tak terlupakan   Teruslah menunggangi waktu dengan semangat membara Berpacu dengan peradaban Tinggalkan jejak pada kisah terbaik Demikianlah ilmu diajarkan   Maros, 11 September 2019

Kepada Sang Penyair

1.       Kepada Sang Penyair Karya: Badaruddin     Aku mengawali kalimat dengan sejuta pujian Kusebutkan bahwa para penyair adalah insan pilihan Mereka pemilik kejujuran rasa Mereka memadatkan kalimat menjadi indah dan bermakna   Sepenuhnya keyakinan itu kembali goyah Ketika kutelusur jejak-jejak lampau Awal seutas syair mulai diagungkan Kutemukan titik-titik kebenaran sejarah   Manusia berkarya hanyalah untuk pengakuan Itulah fakta yang kusimpulkan Pada masa jahiliah sekalipun masih mampu menuturkan kata-kata selembut sutra Demi tuntutan kemewahan ciptaan   Wahai Sang penyair kutitipkan pesanku Sentuhlah hati dan ajaklah mengolah pikir Lahirkan karyamu dari suasana hati dan kegigihan berempati Berkiblatlah pada sastra tertinggi sepanjang zaman Dialah Al Quran.   Maros, 11 September 2019  

Wajah

  1.       Wajah   Karya: Badaruddin Jutaan manusia diciptakan Tak ada satupun yang serupa lainnya Wajah menjadi pembeda Untuk saling mengenal   Wajah berubah dari waktu ke waktu Menjemput sisa kesempatan hidup Wajah menjadi pengingat Untuk bergegas siapkan bekal   Wajah termakan usia Wajah merespon sentuhan Wajah merawat ingatan Setiap perubahan wajah menjadi penanda   Wajah muda bersemangat Wajah tua bersahaja Terus menua itu ketentuan Teruslah mengingat ketentuan   Mengingat muda bangkitkan motivasi Membayangkan tua kuatkan inspirasi Menyadari wajah Menyelaraskan hidup   Maros, 21 Juli 2019