Langsung ke konten utama

Hutan

 

1.      Hutan

Karya: Badaruddin

 

Hutanku!

Paru-paru dunia

Penyeimbang ekosistem

Penangkal polusi

Tempat melata berlindung

Dan begitu banyak lagi amanah yang dibebankan

 

Tapi lihatlah!

Penebangan pohon

Pengalihan fungsi

Penambangan liar

Dan begitu banyak motif motif yang merugikan hutan

 

Saksikanlah!

Kekeringan dimusim kemarau

Longsor dimusim hujan

Hijau menjadi gersang

Panas bumi semakin meningkat

 

Kemana sadar kita?

Dimana undang-undang perlindungan itu?

Apa yang telah diperbuat pemerintah?

Bagaimana kita bersikap?

Begitu banyak tanya yang tersisa

 

Bangkitlah!

Mulai dari diri kita

Menanam banyak pohon

Merawat pohon

Melanjutkan kehidupan

 

Maros, 12 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulislah!

  Menulislah! Karya: Badaruddin   Waktu terus melaju Kisah dihari ini menjadi sejarah dimasa yang akan datang Tak akan bertahan tutur dalam kemurnian jejak Maka goreskanlah kisah itu diatas kertas putih Abadikan dalam memori digital   Menulislah Abaikanlah kaidah penulisan yang baku Lepaskan tali pengikat permainan diksi Karena menulis adalah tentang jejak yang berulang Akhirnyapun akan kau temukan kesempurnaan tulisan itu   Menulis akan mengabadikanmu Menempatkanmu di hati sejarah Engkau mendikte generasi dengan pengalamanmu Namamu menjadi kenangan tak terlupakan   Teruslah menunggangi waktu dengan semangat membara Berpacu dengan peradaban Tinggalkan jejak pada kisah terbaik Demikianlah ilmu diajarkan   Maros, 11 September 2019

Kepada Sang Penyair

1.       Kepada Sang Penyair Karya: Badaruddin     Aku mengawali kalimat dengan sejuta pujian Kusebutkan bahwa para penyair adalah insan pilihan Mereka pemilik kejujuran rasa Mereka memadatkan kalimat menjadi indah dan bermakna   Sepenuhnya keyakinan itu kembali goyah Ketika kutelusur jejak-jejak lampau Awal seutas syair mulai diagungkan Kutemukan titik-titik kebenaran sejarah   Manusia berkarya hanyalah untuk pengakuan Itulah fakta yang kusimpulkan Pada masa jahiliah sekalipun masih mampu menuturkan kata-kata selembut sutra Demi tuntutan kemewahan ciptaan   Wahai Sang penyair kutitipkan pesanku Sentuhlah hati dan ajaklah mengolah pikir Lahirkan karyamu dari suasana hati dan kegigihan berempati Berkiblatlah pada sastra tertinggi sepanjang zaman Dialah Al Quran.   Maros, 11 September 2019